Jumat, 19 Oktober 2012

PENGANTAR PENDIDIKAN Bag. 1


MEMAHAMI PSEUDO EDUCATION DALAM SEHARI-HARI

Pseudo education atau pendidikan kabur merupakan bentuk hipokrisi pendidikan yang hanya menghasilkan generasi baru serta mudah mendapatkan ajaran atau diperlihatkan. Bisa dibayangkan bila pendidikan pada akhirnya hanya menciptakan generasi baru yang kurang beridentitas dan nilai-nilai pendidikan. Sangat sulit keluar dari model masyarakat yang terbentuk hal tersebut, terdapat beberapa hal untuk pseudo education antara lain:

1.      Memahami Dimensi Manusia dan  Potensinya.
Dalam memahami dimensi dan potensi manusia ada beberapa hal antaranya sebagai berikut:
a.     Dimensi individu
Lysen mengemukakan bahwa individu sebuah perseorangan, merupakan suatu keutuhan yang tidak dapat dibagi-bagi. Selanjutnya individu jga dapat diartikan sebagai kepribadian seseorang. Setiap anak manusia yang telah dilahirkan dikaruniai untuk berpotensi berbada dengan lainnya atau menjadi dirinya sendiri. Dimikianlah yang dikatakan M. J. Langeveld seorang pakar pendidikan dari belanda, bahwa setiap manusia mempunyai individualisme.
b.    Dimensi sosial
Demensi ini setiap bayi juga dikaruniai demikian lah yang dikatakan M. J. Langeveld. Peryataan tersebut diartikan bahwa setiap manusia mempunyai benih untuk bergaul. Jadi bisa dikatakn setiap orang akan bisa berkomunikasiyang didalamnya terdapat unsur saling memberi dan menerima. Dalam saling memberi dan menerima merupakan sebuat kunci sukses untuk bergaul.
c.     Dimensi kesusilaan
Kata dasar dari susila adalah su dan sila yang artinya kepantasan yang lebih tinggi. Dalam bermasyarakan tidak hanya berbuat pantas atau sopan bilamana didalamnya terdapat unsur kejahatan terselubung. Dengan ini susila dikembangkan menjadi kebaikan. Unyuk bahasa ilmiah sering juga dipergunakan dua macam istilah yang mempunyai konatosi berbeda yaitu etiket dan etika. Etiket merupakan persoalan kepantasan dan kesopanan serta untuk etika adalah persoalan kebaikan.
d.    Dimensi beragama
Pada dasarnya manusia merupakan makhluk religis, ini dikarenakan manusia sudah mengenal agama. Pengenalan agama yang telah dipercaya, bahwa diluar alam semesta ini terdapat suatu hal yang tidak bisa terjangkau dengan indranya. Suatu sesuatu yang tidak terjangkau indra manusia haltersebut diyakini akan adanya kekuatan supranatural yang menguasai alam semesta ini.

2.      Gejala-Gejala  Pendidikan Dari Berbagai Segi Kehidupan
Pendidikan tidak akan bisa terlepas dalam kehidupan sehari-hari, kerena pendidikan merupakan sebuah cara memanusiakan manusia itu sendiri. Meskipun pendidikan betujuan untuk baik tetapi bisa dimungkinkan akan terjadi kesalahan-kesalahan yang biasanya disebut salah didik. Seperti ini bisa terjdi kerena pendidik juga manusia biasa yang tidak akan luput dari kesalahan. Sehubungan dengan itu terdapat dua kemungkinan yang bisa terjadi yaitu pengenbangan yang utuh dan pengembangan tidak utuh.
a.     Pengembangan yang utuh
Tingkat keutuhan pendidikan akan ditentukan dengan dua faktor yaitu, kualitas dimensi manusia itu sendiri secara potensial serta ketersediaan pemberian pelayanan atas perkembangannya.
b.    Pengembangan tidak utuh
Pengenbangan ini akan terjadi bila unsur proses terabaikan, misalnya dimensi sosial yang didominasi oleh penegembangan induvidu. Akibat pengembangan yang tidak utuh akan membuat kepribadian yang pincang dan tidak mantap.
   
3.      Pendidikan  dan Pengembangan  Jati diri Manusia
Didalam pendidikan terdapat dimensi pengembangan untuk menjadikan jati diri manusia yang lebih baik. Merubah manusia menjadi lebih baik akan terdapat sebuah proses yang mengundang pendidikan untuk berperan sebagai pemberi jasa. Dimisalkan terdapat seseorang dengan bakat seniman, juga akan memerlukan proses pendidikan  untuk menjadi terkenal. Setiap manusia akan dikaruniai naluri yaitu darongan yang alami misal dorongan makan, memepertahankan diri, dll. Tetapi bila manusia hanya hidup denga naluri tidak bedanya denga hewan, makanya dengan pendidikan dapat merubah unsur hewani menjadi manusiawi.

4.      Manusia, Zoon Politican dan Homo Educable
Manusia menjadi sebuah kajian filsafat dikarenakan pendidikan bukan sekedar soal prektek melainkan prakter yang berlandaskan dan bertujuan. Sedangkan landasan dan tujuan pendidikan sendiri mempunyai sifat filosofis normatif. Dikatakan bersifat normatif karena pendidikan mempunyai tugas untuk menumbuah kembangkan manusiatersebut sebagai sesuatu yang bernilai luhur, dan telah menjadi keharusan.
Dari uraian paragraf sebelumnya maka manusiabisa diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik yang prinsipnya membedakan manusia dengan hewan. Walapun antara manusia dengan hewan banyak kemiripanya dalam segi biologis, tetapi kenyatannya pernyataan tersebut menimbulkan kesan yang salah. Kesalahan yang mengira manusai dan hewan sama serta yang membedakan hanya gradual. Perbedaan gradual merupakan perbedaan yang melalui rekayasa yang dapat dibuat menjadi sama dengan keadannya.
Dari perbedaan gradual bisa disimpulkan bahwa manusia dengan kemahirannya merekayasa pendidikan orang hutan untuk menjadi manusia. Keterangan ini telah diperjelas Cherles Darwin dengan teori evolusi yang menemukan bahwa manusia berasal dari kera tetapi telah gagal.  Kegagalan ini terdapat pada proses munculnya bentuk ubah dari primata menjadi manusia.
  
5.      Outcome  Pendidikan dan Insan Paripurna
Untuk mendapatkan pendidikan yang bisa diharapkan maka terdapat perwujudtan pendidikan yang baik. Dengan harapan tersebut maka untuk membenahi dasar pendidikan antara lain dengan konsep sebagai berikut: a) kemampuan menyadari diri, b) Kemampuan bereksistensi, c) Pemilikan kata hati, d) Moral, e) Kemampuan bertanggung jawa, f) Mempunyai rasa kebebasan, g) Kesediaan melaksanakn kewajiban dan menyadari hak, h) Kemampuan merasakan kebahagian

DAFTAR RUJUKAN
Tirtarahardja, Umar, 2005, Pengantar Pendidikan, Jakarta, PT. Renika Cipta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar