MEMAHAMI PSEUDO EDUCATION
DALAM SEHARI-HARI
Pseudo education
atau pendidikan kabur merupakan
bentuk hipokrisi pendidikan yang hanya menghasilkan generasi baru serta mudah mendapatkan ajaran
atau diperlihatkan. Bisa dibayangkan bila
pendidikan pada akhirnya hanya menciptakan generasi baru yang kurang beridentitas dan nilai-nilai pendidikan. Sangat sulit keluar dari model masyarakat yang terbentuk hal tersebut, terdapat beberapa hal
untuk pseudo education antara lain:
1.
Memahami Dimensi Manusia dan Potensinya.
Dalam
memahami dimensi dan potensi manusia ada beberapa hal antaranya sebagai
berikut:
a.
Dimensi individu
Lysen mengemukakan bahwa
individu sebuah perseorangan, merupakan suatu keutuhan yang tidak dapat
dibagi-bagi. Selanjutnya individu jga dapat diartikan sebagai kepribadian
seseorang. Setiap anak manusia yang telah dilahirkan dikaruniai untuk
berpotensi berbada dengan lainnya atau menjadi dirinya sendiri. Dimikianlah
yang dikatakan M. J. Langeveld seorang pakar pendidikan dari belanda, bahwa setiap
manusia mempunyai individualisme.
b.
Dimensi sosial
Demensi ini setiap bayi juga
dikaruniai demikian lah yang dikatakan M. J. Langeveld. Peryataan tersebut
diartikan bahwa setiap manusia mempunyai benih untuk bergaul. Jadi bisa
dikatakn setiap orang akan bisa berkomunikasiyang didalamnya terdapat unsur
saling memberi dan menerima. Dalam saling memberi dan menerima merupakan sebuat
kunci sukses untuk bergaul.
c.
Dimensi kesusilaan
Kata dasar dari susila adalah
su dan sila yang artinya kepantasan yang lebih tinggi. Dalam bermasyarakan
tidak hanya berbuat pantas atau sopan bilamana didalamnya terdapat unsur kejahatan
terselubung. Dengan ini susila dikembangkan menjadi kebaikan. Unyuk bahasa
ilmiah sering juga dipergunakan dua macam istilah yang mempunyai konatosi berbeda
yaitu etiket dan etika. Etiket merupakan persoalan kepantasan dan kesopanan
serta untuk etika adalah persoalan kebaikan.
d.
Dimensi beragama
Pada dasarnya manusia merupakan makhluk religis, ini
dikarenakan manusia sudah mengenal agama. Pengenalan agama yang telah
dipercaya, bahwa diluar alam semesta ini terdapat suatu hal yang tidak bisa
terjangkau dengan indranya. Suatu sesuatu yang tidak terjangkau indra manusia
haltersebut diyakini akan adanya kekuatan supranatural yang menguasai alam
semesta ini.
2.
Gejala-Gejala
Pendidikan Dari Berbagai Segi Kehidupan
Pendidikan
tidak akan bisa terlepas dalam kehidupan sehari-hari, kerena pendidikan
merupakan sebuah cara memanusiakan manusia itu sendiri. Meskipun pendidikan
betujuan untuk baik tetapi bisa dimungkinkan akan terjadi kesalahan-kesalahan
yang biasanya disebut salah didik. Seperti ini bisa terjdi kerena pendidik juga
manusia biasa yang tidak akan luput dari kesalahan. Sehubungan dengan itu
terdapat dua kemungkinan yang bisa terjadi yaitu pengenbangan yang utuh dan
pengembangan tidak utuh.
a.
Pengembangan yang
utuh
Tingkat keutuhan pendidikan
akan ditentukan dengan dua faktor yaitu, kualitas dimensi manusia itu sendiri
secara potensial serta ketersediaan pemberian pelayanan atas perkembangannya.
b.
Pengembangan tidak utuh
Pengenbangan ini akan terjadi
bila unsur proses terabaikan, misalnya dimensi sosial yang didominasi oleh
penegembangan induvidu. Akibat pengembangan yang tidak utuh akan membuat
kepribadian yang pincang dan tidak mantap.
3.
Pendidikan dan
Pengembangan Jati diri Manusia
Didalam
pendidikan terdapat dimensi pengembangan untuk menjadikan jati diri manusia
yang lebih baik. Merubah manusia menjadi lebih baik akan terdapat sebuah proses
yang mengundang pendidikan untuk berperan sebagai pemberi jasa. Dimisalkan
terdapat seseorang dengan bakat seniman, juga akan memerlukan proses
pendidikan untuk menjadi terkenal.
Setiap manusia akan dikaruniai naluri yaitu darongan yang alami misal dorongan
makan, memepertahankan diri, dll. Tetapi bila manusia hanya hidup denga naluri
tidak bedanya denga hewan, makanya dengan pendidikan dapat merubah unsur hewani
menjadi manusiawi.
4.
Manusia, Zoon
Politican dan Homo Educable
Manusia
menjadi sebuah kajian filsafat dikarenakan pendidikan bukan sekedar soal
prektek melainkan prakter yang berlandaskan dan bertujuan. Sedangkan landasan
dan tujuan pendidikan sendiri mempunyai sifat filosofis normatif. Dikatakan
bersifat normatif karena pendidikan mempunyai tugas untuk menumbuah kembangkan manusiatersebut
sebagai sesuatu yang bernilai luhur, dan telah menjadi keharusan.
Dari
uraian paragraf sebelumnya maka manusiabisa diartikan sebagai ciri-ciri
karakteristik yang prinsipnya membedakan manusia dengan hewan. Walapun antara
manusia dengan hewan banyak kemiripanya dalam segi biologis, tetapi kenyatannya
pernyataan tersebut menimbulkan kesan yang salah. Kesalahan yang mengira
manusai dan hewan sama serta yang membedakan hanya gradual. Perbedaan gradual
merupakan perbedaan yang melalui rekayasa yang dapat dibuat menjadi sama dengan
keadannya.
Dari
perbedaan gradual bisa disimpulkan bahwa manusia dengan kemahirannya merekayasa
pendidikan orang hutan untuk menjadi manusia. Keterangan ini telah diperjelas
Cherles Darwin dengan teori evolusi yang menemukan bahwa manusia berasal dari
kera tetapi telah gagal. Kegagalan ini
terdapat pada proses munculnya bentuk ubah dari primata menjadi manusia.
5.
Outcome Pendidikan dan Insan Paripurna
Untuk
mendapatkan pendidikan yang bisa diharapkan maka terdapat perwujudtan
pendidikan yang baik. Dengan harapan tersebut maka untuk membenahi dasar
pendidikan antara lain dengan konsep sebagai berikut: a) kemampuan menyadari
diri, b) Kemampuan bereksistensi, c) Pemilikan kata hati, d) Moral, e)
Kemampuan bertanggung jawa, f) Mempunyai rasa kebebasan, g) Kesediaan
melaksanakn kewajiban dan menyadari hak, h) Kemampuan merasakan kebahagian
DAFTAR RUJUKAN
Tirtarahardja, Umar, 2005, Pengantar Pendidikan, Jakarta, PT.
Renika Cipta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar