E-LEARNING
I.
Definisi E-Learning
E-Learning
dapat didefinisikan sebagai pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan
rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi
pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. Ada pula yang menafsirkan e-learning
sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet.
Juga ada yang mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat
elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
Merujuk pada penggunaan e-learning dalam teknologi
internet dipergunakan untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.. Bahwa ada yang berpendapat istilah
“e” atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah
untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran
lewat teknologi elektronik internet. Internet, satelit, tape audio/video, TV
interaktif dan CD-ROM adalah sebagian dari media elektronik yang digunakan
Pengajaran boleh disampaikan secara ‘synchronously’ (pada waktu yang
sama) ataupun ‘asynchronously’ (pada waktu yang berbeda). Materi
pengajaran dan pembelajaran yang disampaikan melalui media ini mempunyai teks,
grafik, animasi, simulasi, audio dan video. Juga harus menyediakan kemudahan
untuk ‘discussion group’ dengan bantuan profesional dalam bidangnya.
Perbedaan pembelajaran yang terdahulu dengan
e-learning terdapat pada kelas, pembelajarn terdahulu pendidik dianggap sebagai
orang yang serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada
pelajarnya. Sedangkan di dalam pembelajaran ‘e-learning’ fokus utamanya
adalah peserta didik. Peserta didik mandiri pada waktu tertentu dan
bertanggung-jawab untuk pembelajarannya. Suasana pembelajaran ‘e-learning’ akan
‘memaksa’ peserta didik memainkan peranan yang lebih aktif dalam
pembelajarannya. Peserta didik membuat perancangan dan mencari materi dengan
usaha, dan inisiatif sendiri.
Ada tiga hal yang harus dalam merancang pembelajaran e-learning,
yaitu : sederhana, personal, dan cepat.
Sistem yang sederhana akan memudahkan peserta didik dalam memanfaatkan
teknologi dan menu yang ada, dengan kemudahan pada panel yang disediakan, akan
mengurangi pengenalan sistem e-learning itu sendiri, sehingga waktu belajar
peserta dapat diefisienkan untuk proses belajar itu sendiri dan bukan pada
belajar menggunakan sistem e-learning-nya. Pembelajarn personal berarti
pengajar dapat berinteraksi dengan baik seperti layaknya seorang guru yang
berkomunikasi dengan murid di depan kelas. Dengan pendekatan dan interaksi yang
lebih personal, peserta didik diperhatikan kemajuannya, serta dibantu segala
persoalan yang dihadapinya. Kemudian layanan ini ditunjang dengan kecepatan,
respon yang cepat terhadap keluhan dan kebutuhan peserta didik lainnya. Dengan
demikian perbaikan pembelajaran dapat dilakukan secepat mungkin oleh pengajar
atau pengelola.
II.
Fungsi dan Manfaat E-Learning
Ada tiga fungsi
pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom
instruction), yaitu sebagai suplemen yang sifatnya pilihan/opsional,
pelengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi)
1. Suplemen
Dikatakan berfungsi sebagai supplemen
(tambahan), apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan
memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak
ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran
elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya
tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.
2. Komplemen (tambahan)
Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran
elektronik diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (pengayaan)
atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran
konvensional. Materi pembelajaran elektronik dikatakan sebagai enrichment, apabila kepada peserta didik
yang dapat dengan cepat menguasai/memahami materi pelajaran yang disampaikan pendidik
secara tatap muka (fast learners) diberikan kesempatan untuk mengakses
materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dikembangkan untuk
peserta didik. Tujuannya agar semakin memantapkan tingkat penguasaan peserta
didik terhadap materi pelajaran yang disajikan pendidik di dalam kelas. Dikatakan
sebagai program remedial, apabila kepada peserta didik yang mengalami kesulitan
memahami materi pelajaran yang disajikan pendidik secara tatap muka di kelas (slow
learners) diberikan kesempatan untuk memanfaatkan materi pembelajaran
elektronik yang memang secara khusus.
3. Substitusi (pengganti)
Beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju
memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada
para mahasiswanya.Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel
mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain
sehari-hari mahasiswa. Ada 3 alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat
dipilih peserta didik, yaitu: (1) sepenuhnya secara tatap muka (konvensional),
(2) sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet, atau bahkan
(3) sepenuhnya melalui internet. Alternatif model pembelajaran manapun yang
akan dipilih mahasiswa tidak menjadi masalah dalam penilaian. Karena ketiga
model penyajian materi perkuliahan mendapatkan pengakuan atau penilaian yang
sama.
Pemanfaatan
pembelajaran yanf menggunakan e-learning menuru para ahli terdiri atas 4 hal yaitu:
1. Meningkatkan
kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity). Apabila
dirancang secara cermat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar
interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan pendidik, antara
sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar (enhance interactivity). Berbeda halnya
dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam
kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan
untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi.
Hal ini disebabkan karena pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan
yang ada atau yang disediakan pendidik untuk berdiskusi atau bertanya jawab
sangat terbatas.
2. Memungkinkan
terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapansaja (time and place flexibility). Mengingat sumber belajar yang sudah
dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui
internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar
kapan dan dari mana saja. Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan
pembelajaran, dapat diserahkan kepada pendidik begitu selesai dikerjakan.
3. Menjangkau
peserta didik dalam cakupan yang luas (potential
to reach aglobal audience). Dengan fleksibilitas
waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui
kegiatan pembelajaran elektronik semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan
tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa, dimana dan kapan saja,
seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui
internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang
membutuhkan.
4. Mempermudah
penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities). Fasilitas
yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak (software) yang terus berkembang turut
membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga
dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan
perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan mudah. Di
samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat pula
dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari peserta didik maupun atas
hasil penilaian pendidik selaku penanggung jawab atau pembina materi
pembelajaran itu sendiri.
III.
Karakteristik E-Learning
Pemanfaatan e-learning tidak terlepas dari jasa
internet, karena teknik pembelajaran yang tersedia di internet begitu lengkap,
dan hal ini akan mempengaruhi tugas dosen dalam proses pembelajaran. Dahulu,
proses belajar mengajar dominasi oleh peran pendidik, karena itu disebut the
era of teacher. Kini, proses belajar dan mengajar, banyak didominsi oleh
peran pendidik dan buku (the era of teacher and book) dan pada masa
mendatang prose belajar mengajar akan didominasi oleh peran pendidik, buku dan
teknologi ( the era of teacher.
Pengembangan e-learning tidak semata-mata hanya
menyajikan materi pelajaran secar online saja, namun harus komunikatif
dan menarik. Materi pembelajaran didesain seolah peserta didik belajar
dihadapan pengajar memalui layar komputer yang dihubungkan melalui jaringan
internet. Beberapa e-learning yang biasanya dijadikan dengan menggunakan
media pembelajaran di lembaga pendidikan formal antara lain sebagai berikut:
1.
Memanfaatkan jasa
teknologi elektronik, pendidik dengan peserta didik juga dapat dipergunakan
diantara peserta didik berkomunikasi dengan relatif mudah tanpa dibatasi oleh
hal-hal yang bersifat protokoler.
2.
Memanfaatkan
keunggulan komputer (digital media dan computer networks)
3.
Menggunakan bahan
ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan dikomputer
sehingga dapat diakses oleh pendidik dan peserta didik kapan dan dimana saja
bila yang bersangkutan memerlukan.
4.
Memanfaatkan jadwal
pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan
dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.
IV.
Keunggulan dan Kekurangan E-Learning
Menurut
para ahli yang menggunakan pembelajaran e-learning dengan manfaat penggunaan
media internet, khususnya dalam pendidikan terbuka dan jarak jauh, antara lain
sebagai berikut:
1. Tersedianya
fasilitas e-moderating di mana pendidik dan peserta didik dapat berkomunikasi
secara mudah melalui fasilitas internet secara regular atau melakukan kegiatan
berkomunikasi dengan mudah dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat
dan waktu.
2. Pendidik
dan peserta didik dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang
terstruktur dan terjadwal melalui internet, sehingga keduanya bisa saling
menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari.
3. Peserta
didik dapat belajar atau me-review bahan ajar (mata kuliah) setiap saat
dan di mana saja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer.
4. Bila
peserta didik memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang
dipelajarinya dapat melakukan akses di internet secara lebih mudah.
5. Baik
pendidik maupun peserta didik dapat melakukan diskusi melalui internet serta
dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu
pengetahuan dan wawasan lebih luas.
6. Berubahnya
peran peserta didik dari yang biasanya pasif menjadi aktif.
7. Relatif
lebih efisien. Misalnya bagi peserta didik yang tinggal jauh dari lembaga
pendidikan formal dapat mendapat informasi dengan mudah.
Walaupun
dengan memanfaat media pembelajaran menggunakan internet dianggap cukup luas untuk
pembelajaran atau e-learning tetapi juga tidak akan terlepas dari berbagai
kekurangan dalam penggunaanya antara lain:
1. Kurangnya
interaksi antara pendidik dan peserta didik, bahkan antar peserta didik
sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam
proses belajar dan mengajar.
2. Kecenderungan
mengabaikan aspek akademik, sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek
bisnis/komersial.
3. Proses
belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan dari pada pendidikan.
4. Berubahnya
peran pendidik dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional,
kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT.
5. Peserta
didik yang tidak mempunyai motivasi belajar tinggi cenderung akan mendapatkan gagal
dalam pendidikan.
6.
Tidak semua
tempat tersedia fasilitas dan jaringan internet.
7.
Kurangnya tenaga
yang mengetahui dan memiliki keterampilan dalam menggunakan internet.
8. Kurangnya penguasaan dalam menggunakan bahasa
komputer.
Daftar
Rujukan
Hasbullah, Perancangan Dan Implementasi Model
Pembelajaran E-Learning Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Di JPTE FPTK
UPI, Bandung, FPTK UPI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar