Kamis, 29 November 2012

MOTOR KAPASITOR START (STARTING CAPACITOR MOTOR)


Motor ini adalah merupakan jelmaan dari motor fasa belah, tetapi mempunyai kapasitor yang dihubungkan seri dengan belitan bantu dan sakelar sentrifugal, secara konstruktif sama persis, hanya ditambah satu unit kapasitor untuk memperbesar kopel awal (start).  Seperti dikatakan di awal prinsip kerja motor kapasitor start ini sama seperti motor induksi, yaitu jika pada lilitan utama diberikan sumber arus maka akan terjadi medan magnit putar (fluks magnit) yang ada dan besarnya sama, tidak ada resultan gaya.
Tetapi dengan adanya lilitan bantu dan kapasitor maka ada beda fasa diantara keduanya, disinilah terjadi fluksi magnit dan resultan gaya yang berbeda maju atau mundur tergantung besarnya resultan gaya itu sendiri dan pada umumnya terjadi resultan gaya searah jarum jam sehingga motor dapat berputar ke kanan. Setelah motor berputar 75% dari putaran nominal maka sakelar sentrifugal bekerja memutuskan rangkaian lilitan bantu dan motor bekerja hanya dengan lilitan utama.
Keuntungan motor jenis ini dibanding dengan type motor fasa belah adalah:
Ø  Mempunyai kopel yang lebih kuat.
Ø  Faktor kerjanya lebih besar (mendekati 1)
Secara konstruksi rangkaian kelistrikan motor start kapasitor dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

 Gambar Motor start kapasitor
           
Adapun bagian-bagian yang terpenting dari motor ini adalah:
a.    Stator (tempat belitan utama dan bantu) pada alur-alur stator
b.    Rotor sangkar dengan porosnya
c.    Bantalan peluruh (laher)
d.    Tutup stator dan rangka body
e.    Kapasitor
f.     Ujung-ujung terminal motor

Sumber: Modul Motor Listrik SMK


Selasa, 27 November 2012

MULTIVIBRATOR


Multivibrator adalah suatu rangkaian yang mengeluarkan tegangan bentuk blok. Sebenarnya MV adalah merupakan penguat transistor dua tingkat yang dikopel dengan kondensator, dimana output dari tingkat yang terakhir akan dikopelkan dengan pertama, sehingga kedua transistor itu akan saling menyumbat. MV ada yang berguncang bebas (free running) dan tersulut (triggering) ada 3 jenis MV :
1. Astabil Multivibrator
2. Monostabil Multivibrator
3. Bistabil MultivibratoR
Rangkaian lain yang mampu menghasilkan bentuk gelombang kotak yang berasal dari suatu inputan ialah SCHMITT TRIGGER. Pada dasarnya merupakan komparator yang memiliki nilai hysterisis, dimana nilai ini dibatasi oleh UTP dan LTP. Rangkaian ini banyak dipakai pada saklar elektronik, pembangkit gelombang asimetris.

1)      Astable Multivibrator
Tidak memiliki kondisi yang “mantap” jadi akan selalu berguling dari satu kondisi ke kondisi yang lain. Disebut sebagai multivibrator astable apabila kedua tingkat tegangan keluaran yang dihasilkan oleh rangkaian multivibrator tersebut adalah quasistable. Disebut quasistable apabila rangkaian multivibrator membentuk suatu pulsa tegangan keluaran sebelum terjadi peralihan tingkat tegangan keluaran ke tingkat lainnya tanpa satupun pemicu dari luar.
 Pulsa tegangan itu terjadi selama 1 periode (T1), yang lamanya ditentukan oleh komponen-komponen penyusun rangkaian multivibrator tersebut. Rangkaian tersebut hanya mengubah keadaan tingkat tegangan keluarannya di antara 2 keadaan, masing-masing keadaan memiliki periode yang tetap. Jika sirkit dihubungkan seperti ditunjukkan gambar berikut (pins 2 dan 6 dihubungkan). Itu akan memicu dirinya sendiri dan bergerak bebas sebagai multivibrator, rangkaian multivibrator tersebut akan bekerja secara bebas dan tidak lagi memerlukan pemicu.
 Multivibrator adalah suatu rangkaian elektronika yang pada waktu tertentu hanya mempunyai satu dari dua tingkat tegangan keluaran, kecuali selama masa transisi.Multivibrator astabil merupakan rangkaian penghasil gelombang kotak yang tidak memiliki keadaan yang mantap dan selalu berguling dari satu kondisi ke kondisi yang lain (free running).
Gambar 1.1 Rangkaiam Astable Multivibrator
Gamnbar 1.2 Rangkaian Astable Multivibrator
Gambar 1.3 Sinyal Keluaran
Multivibrator astabil mempunyai dua keadaan, namun tidak stabil pada salah satu keadaan diantaranya dengan perkataan lain. Multivibrator akan berada pada salah satu keadaanya selama sesaat dan kemudian berpindah ke keadaan yang lain. Disini Multivibrator tetap untuk sesaat sebelum kembali ke keadaan semula, perpindahan pulang pergi berkesinambungan ini menghasilkan suatu gelombang segiempat dengan waktu bangkit yang sangat cepat. Karena tidak dibutuhkan sinyal masukan untuk memperoleh suatu keluaran.
Gambar 1.4 Rangkaian Dasar Multivibrator Astabil
(Wasito S, Vademekum Elektronika Edisi Kedua, 2004, PT. Gramedia Pustaka Utama)
Kerja rangkaian dasar Multivibrator astabil seperti pada flip flop RS salah satu transistor jenuh pada saat yang lainnya terpancung, perpindahan dari suatu keadaan ke keadaan yang lainnya akibat adanya pandangan kapasitor, maka keadaan tersebut tidak stabil dengan begitu kapasitor akan mengisi dan mengosongkan muatan selama sesaat dan mengakibatkan salah satu transistor menghantar, kemudian transistor lainnya. Pengatur waktu NE 555 adalah sebuah IC dengan berbagai fungsi yang berlainan, termasuk operasi astabil. Rangkaian ini bekerja bebas pada frekuensi yang ditentukan oleh dua buah resistor dan 1 buah kapasitor.
Gambar 1.5 Multivibrator Astabil pada IC NE 555         
2)      Monostabil Multivibrator
Memiliki satu kondisi yang stabil dan satu kondisi yang tidak stabil Pada operasi ini, pengatur waktu berfungsi sebagai satu tingkat keluaran (one shot). Disebut sebagai multivibrator monostable apabila satu tingkat tegangan keluarannya adalah stabil sedangkan tingkat tegangan keluaran yang lain adalah quasistable. Rangkaian tersebut akan beristirahat pada saat tingkat tegangan keluarannya dalam keadaan stabil sampai dipicu menjadi keadaan quasistable.
Keadaan quasistable dibentuk oleh rangkaian multivibrator untuk suatu periode T1 yang telah ditentukan sebelum berubah kembali ke keadaan stabil. Sebagai catatan bahwa selama periode T1 adalah tetap, waktu antara pulsa-pulsa tersebut tergantung pada pemicu. Tegangan keluaran multivibrator ini. Kapasitor eksternal pada awalnya di isi dan kemudian dikosongkan kembali oleh suatu transistor yang berada di dalam LM555. Pada aplikasi, suatu pulsa picu negatif kurang dari 1/3 VCC di pin 2, flip-flop di set untuk menghubung-singkatkan agar terjadi pelepasan kapasitor dan menggerakan keluaran menjadi tinggi.
Gambar 2.1 Rangkaian Monostable Multivibrator

Gambar 2.2 Rangkaian Monostable Multivibrator

Multivibrator monostabil akan mengalami stabil pada salah satu keadaan namun tidak stabil pada keadaan yang lainnya. Bila dipicu rangkaian berpindah dari keadaan stabil ke keadaan tidak stabil. Rangkain ini menetap pada keadaan tak stabil ini selama sesaat dan selanjutnya kembali keadaan semula. Rangkaian dasar pada gambar 2.3 memperlihatkan satu cara untuk menyusun sebuah multivibrator monostabil.
 Keadaan stabil adalah Q1 mati atau Q2 hidup, yang berkaitan dengan keluaran rendah pada saat suatu pinggiran pulsa lonceng positif tiba, pinggiran ini didefinisikan oleh kapasitor guna mendapatkan suatu impuls positif yang sempit pada basis Q1. Impuls ini menghidupkan Q1 dan menurunkan tegangan kolektor Q1, penurunan tegangan ini digandengkan ke basis Q2, sehingga mematikan 9 transistor ini. Namun kondisi Q1 hidup dan kondisi Q2 mati hanya berlaku sementara, karena dengan berubahnya muatan kapasitor, pra tegangan muncul pada basis Q2 akan hilang setelah selang waktu tertentu yang ditentukan oleh tetapan waktu Rc pada rangkaian basis Q2, Q2 kembali hidup dan Q1 mati.

Gambar 2.3 Rangkaian Dasar Multivibrator Monostabil
(Wasito S, Vademekum Elektronika Edisi Kedua, 2004, PT. Gramedia Pustaka Utama)

Setiap kali suatu pinggiran pulsa lonceng positif tiba pada basis Q, tegangan keluaran Y berpindah dari rendah ke tinggi selama sesaat dan selanjutnya kembali ke keadaan rendah. Terdapat sebuah pulsa segiempat bagi setiap pinggiran pulsa lonceng positif. (Wasito S, Vademekum Elektronika Edisi Kedua, 2004, PT. Gramedia Pustaka Utama).

3)      Bistabil Multivibrator
Memiliki dua keadaan yang stabil. Disebut sebagai multivibrator bistable apabila kedua tingkat tegangan keluaran yang dihasilkan oleh rangkaian multivibrator tersebut adalah stabil dan rangkaian multivibrator hanya akan mengubah kondisi tingkat tegangan keluarannya pada saat dipicu. Pada dasarnya merupakan komparator yang memiliki nilai hysterisis, dimana nilai ini dibatasi oleh UTP dan LTP. Rangkaian ini banyak dipakai pada saklar elektronik, pembangkit gelombang asimetris.

Gambar 3.1
Waktu pengisian (output tinggi) :
t1 = 0.693 (RA + RB) C
Dan waktu pelepasan (output rendah) :
t2 = 0.693 (RB) C
Total periode :
T = t1 + t2 = 0.693 (RA +2RB) C
Frekuensi pada osilasi :
Tugas perputaran :
Flip-flop adalah nama lain dari multivibrator bistabil, yakni multivibrator yang keluarannya adalah suatu tegangan rendah atau tinggi (0 atau 1). Keluaran ini tetap rendah atau tinggi, untuk mengubah rangkaian yang bersangkutan harus didrive oleh suatu masukan yang disebut pemicu (trigger). Sampai datangnya pemicu, tegangan keluaran tetap rendah atau tinggi untuk waktu selang terbatas.
 Rangkaian dasar dari multivibrator pada gambar 3.2 gandengan silang dari masing-masing kolektor ke basis pada sisi yang berlawanan. Gandengan ini menghasilkan umpan balik positif, oleh sebab itu jika Q1 jenuh, tegangan kolektor Q1 yang rendah akan mendorong Q2 ke keadaan terpancung. Demikian juga jika pada suatu saat kita dapat menjenuhkan Q2 maka keadaan ini akan mendorong Q1 terpancung. Maka terdapat dua keadaan kerja yang stabil. Q1dan Q2 terpancung atau Q1 terpancung dan Q2 jenuh.
Untuk mengendalikan keadaan flip-flop, harus ditambahkan masukan-masukan pemicu jika suatu tegangan diterapkan pada masukan S (set), maka Q1 jenuh, hal ini mendorong Q2 ke keadaan terpancung, pemicu pada masukan S dapat dihilangkan. Demikian pula suatu keadan tinggi dapat diterapkan pada masukan R (reset) hal ini menjenuhkan Q2 dan mendorong Q1 ke keadaan terpancung. (Wasito S, Vademekum Elektronika Edisi Kedua, 2004, PT. Gramedia Pustaka Utama).

Gambar 3.2 Rangkaian Dasar Multivibrator Bistabil
(Wasito S, Vademekum Elektronika Edisi Kedua, 2004, PT. Gramedia Pustaka Utama)

4)      SCHMITT TRIGGER
Merupakan rangkaian yang dapat menghasilkan gelombang kotak yang berasal dari suatu input. Pada dasarnya merupakan komparator yang memiliki nilai hysterisis, dimana nilai ini dibatasi oleh UTP dan LTP. Rangkaian ini banyak dipakai pada saklar elektronik, pembangkit gelombang asimetris.
Schimitt triger pada dasarnya adalah komparator dengan 2 nilai pembanding (upper trip point/UTP dan lower trip point/LTP). Bekerjanya sebagai berikut. Misalkan sinyal digital dimasukan ke schmitt triger. Pada saat sinyal berada di logika 1, maka output schmitt trigger harus 1 juga (tergantung jenis, kalau digital buffer input dan output sama, tapi kalau inverter, outputnya kebalikan input). Apabila sinyal tersebut mendapat gangguan noise sehingga level menjadi turun, maka selama levelnya masih diatas LTP, output akan tetap. Kebalikannya jika sinyal berada di logika rendah, pada saat sinyal mendapay noise dan lebel jadi naik, maka selama level tidak melebihi UTP, output akan tetap. Jadi schmitt triger akan menghilangkan pengaruh noise tersebut.
Aplikasinya biasanya ada di bagian input suatu sistem. Trigger Schmit merupakan komperator regeneratif yang berfungsi sebagai pembanding dengan umpan balik positif. Untuk mengubah tegangan masuk yang perubahannya sangat lambat kedalam keluaran yang berubah tajam bentuk gelombangnya (hampir tiodak kontinu) dan timbul tepat pada harga tertentu dari tegangan masuk diperlukan rangkaian pemicu schmit dimana sinyal masuk dapat diambil sembarang selama bentuk gelombangnya peroidi dengan amplitudo cukup besar untuk melewati titik perpindahan atau batas jangkauan histerissis (VH) sehingga menhasilkan keluaran gelombang persegi.
Pada dasarnya rangkaian pemicu schmit op-amp seperti terlihat pada gambar 2.9, dimana adanya pembagian tegangan seghingga diperoleh umpan balik positif.

Gambar 4.1 (a) Pemicu Schmit           (b) Histerisis

Keluaran akan tetap pada keadaan yang diberikan sampai masuknya melebihi tegangan acuan, misalnya bila keluarannya mengalami kejenuhan positif, maka tegangan acuannya adalah +Bvjen tegangan masukan Bvjen harus dinaikkan lebih sedikit dari + Bvjen dengan demikian tegangan kesalahannya berbalik polaritas dengan tegangan keluarannya beralih kekeadaan rendah pada Bvjen. Sebaliknya, bila keluarannya ada pada keadaan negatif, maka akan tetap negatif sampai tegangan masuknya menjadi lebih negatif dari pada Bvjen. Pada saat itu keluarannya beralih dari negatif ke positif. Umpan balik positif mengakibatkan efek yang tidak wajar pada rangkaian, dimana ia menguatkan tegangan acuan. Agar mempunyai polaritas yang sama dengan tegangan keluaran.
Tegangan acuan menjadi positif bila keluaran tinggi dan negatif bila keluaran rendah, dimana perbedaab dua titik perpindahan ini disebut Histerissis, karena adanya umpan balik positif. Histerissis dibutuhkan karena dapat mencegah kesalahan pemicuan yang disebabkab derau, misalnya ada pemicu schmit tanpa histerissis, maka derau secara acak dari keadaan rendah ke kkeadaan tinggi. Dengan menggunkan pemicu Schmit dapat menghasilkan keluaran gelombang persegi, terlepas dari bentuk gelombang sinyal masukannya. Dengan kata lain tegangan masukan tidak harus sinusoidal, dimana selama bentuk gelombangnya periodic dan mempunyai amplitudo yang cukup besar untuk melewati titik perpindahan. Maka akan didapatkan keluaran gelombang persegi dari pemicu. Seperti pada gambar 4.2, dimana sinyal masukannya periodic. Pemicu schmit menghasilkan gelombang persegi, dengan tanggapan bahwa sinyal masukkannya cukup besar untuk melewati titik kedua titik perpindahan.
Bila pada saat sedang berayun keatas pada setengah siklus positif tegangan masukannya melebihi UTP (Upper Trip Point), maka tegangan keluarannya beralih ke . Vjen dan pada setengah siklus berikutnya, teganagan masukannya menjadi lebih negatif dari pada LTP dan keluarannya beralih ke +Vjen. Gelombang persegi ini mempunyai frekuensi yang sama dengan sinyal masukan.

Gambar 4.2 Sinyal Masukan dan Keluaran dari Schmit Trigger
Rangkaian terpadu yang mencakup fungsi pemicu Schmitt yaitu 741S14 yang merupakan heksa inverter pemicu Schmitt, dalam arti setiap keluaran dari pemicu Schmitt dibalikkan dimana IC tersebut berisi enam buah inverter pemicu Schmitt dalam satu kemasan.

     Sumber: Ahmad, Jayadin. 2007. Eldas

Senin, 05 November 2012

PERCOBAAN MULTIMETER


BAB 1

MULTIMETER

A.    TUJUAN
a.       Mempelajari fungsi dan kegunaan multimeter
b.      Memahami kekurangan dan kelebihan dari multimeter digital dan analog
c.       Dapat menggunakan multimeter sebagai pengukuran tegangan (Voltmeter), sebagai pengukur arus (Amperemeter) dan sebagai pengukur resistansi (Ohmmeter)

B.       ALAT DAN BAHAN
a.       Multimeter Analog     
b.      Multimeter Digital     
c.       Power Supply DC      
d.      Sumber Tegangan AC
e.       Tahanan
f.       Kabel
g.      Jek
h.      Resistor

C.      DASAR TEORI
1.      Multimeter
Multimeter elektronik kadang-kadang disebut juga AVO-meter, Pada dasarnya alat ini merupakan gabungan dari alat ukur searah, tegangan searah, resistansi, tegangan bolak-balik. Untuk mengetahui fungsi dan sifat multimeter yang dipergunakan pelajarilah baik-baik spesifikasi dan penggunaan alat tersebut.
Spesifikasi yang harus diperhatikan terutama adalah batas ukur dan skala pada setiap besaran yang diukur arus, tegangan searah atau tegangan bolak-balik dan resistansi. Serta harus bisa mengira satuannya, bilamana tidak diketahui maka bisa menggunkan skala yang lebih besar. Dalam pengukuran sensitivitas yang dinyatakan dalam ohm-per-volt pada pengukuran tegangan searah dan bolak-balik dan ketelitian yang dinyatakan dalam %. Serta hanya mampu mengukur daerah frekuensi yang mampu diukur pada pengukuran tegangan bolak-balik (misalnya antara 20 Hz sampai dengan 30 KHz). Tidah kalh penting adalah batere yang diperlukan untuk mensuplay alat ukur. Sebelum menggunakan alat tersebut, perlu dipelajari cara membaca skala serta melakukan “zero adjustment” (membuat jarum pada kedudukan nol). Mampu memilih batas ukur dan tahu memilih terminal, yaitu mempergunakan polaritas (tanda + dan -) pada pengukuran tegangan dan arus searah.

  1. Alat Ukur Arus Searah
Ammeter arus searah (DC ammeter) dipergunakan untuk mengukur arus searah. Alat ukur ini dapat berupa amperemeter, milliamperemeter dan galvanometer. Dalam mempergunakan ammeter arus searah perlu diperhatikan beberapa hal yaitu Ammeter tidak boleh dipasang sejajar (paralel) dengan sumber daya serta ammeter harus dipasang seri dengan rangkaian yang diukur arusnya dan melihat polaritasnya. Bila kita mempunyai milliamperemeter arus searah, hendak digunakan sebagai ammeter dengan beberapa macam batas ukur, dapat dilakukan sebagai berikut:
Gambar 1 Rangkaian Dasar Ammeter Searah
Dimisalkan M milliamperemeter dengan batas ukur 1 mA dan resistansi dianggap RM pasang resistor RP paralel dengan meter M. Dari rangkaian,dapat dilakukan perhitungan berikut:
Arus yang diukur adalah:

Misalkan IM adalah batas ukur meter M = 1 mA dan dipilih                     
maka arus yang diukur adalah
Jadi, dengan memilih harga RP tertentu maka akan mendapatkan pengaturan besaran arus IX yang diukur. Resistor RP disebut resistor paralel atau "shunt“ dari rangkaian ammeter.
  1. Alat Ukur Tegangan Searah
Suatu alat ukur tegangan searah umumnya terdiri dari: meter dasar (Amperemeter) dan rangkaian tambahan untuk memperoleh hubungan antara tegangan searah yang diukur dengan arus searah yang mengalir melalui meter dasar. Meter dasar merupakan suatu alat yang bekerja (merupakan stator), dan suatu kumparan yang akan dilalui arus yang bebas bergerak dalam medan magnet tetap tersebut. Rangkaian dasar voltmeter dapat digambarkan seperti pada Gambar 2.

Gambar 2 Rangkaian Dasar Voltmeter Searah
Dari gambar 2 dapat diperoleh suatu persamaan
VX = IM RS + IM RM         Ket:     VX       = tegangan yang diukur
RS        = resistor seri
RM       = resistansi dalam meter
M         = meter dasar (berupa mA meter)
Bila IM adalah batas ukur meter M atau skala penuh maka RS harus dipilih sehingga VX merupakan batas ukur dari seluruh rangkaian sebagai voltmeter.
  1. Alat Ukur Tegangan Bolak-Balik
Pada dasarnya voltmeter bolak-balik terdiri dari: rangkaian penyearah, meter dasar (misalnya mA-meter searah) dan resistor seri (lihat Gambar 3).

Gambar 3 Rangkaian Dasar Voltmeter Bolak-Balik
Untuk gambar 3a Arus Searah memperolah persamaan sebagi berikut:

Atau Vx (harga efektif = 1,11 IM (RS + RM)
Sedangkan untuk gambar 3b Arus Searah dengan persamaan sebagai berikut:


Atau Vx (harga efektif = 2,22 IM (RS + RM)
Jadi untuk skala multimeter ssebagai voltmeter bolak-balik umumnya dikalibrasi, untuk bentuk gelombang sinusoida murni. Dengan demikian diharapkan meter akan menunjukan harga yang salah dipengukuran tegangan bolak-balik bukan sinus murni.
  1. Alat Ukur Resistansi
Umum suatu rangkaian ohmmeter terdiri dari meter dasar berupa miliammeter atau mikroammeter arus searah, beberapa buah resistor dan potensiometer serta suatu sumber tegangan searah atau baterai. Ada dua macam jenis ohmmeter, yaitu ohmmeter seri dan ohmmeter paralel.

Gambar 4 Rangkaian Dasar Ohmmeter seri
V merupakan sumber tegangan searah atau baterai dan RM adalah resistansi dalam meter dasar M. a) Mula-mula diambil RX = nol atau A-B dihubungkan sehingga diperoleh arus melalui meter M adalah:

Pada keadaan tersebut R2 diatur 

agar meter M menunjukan harga maksimum. Imaks = arus skala penuh (full-scale). b) Bila diambil RX = tak terhingga atau A-B dalam keadaan terbuka, maka diperoleh I M = 0 c) Sekarang dimisalkan suatu resistor RX dipasang pada A-B, maka arus melalui M adalah



Sehingga






Dalam persamaan tersebut IM = arus yang mengalir melalui meter M dan RX = resistansi yang diukur.

Gambar 5 Rangkaian Dasar Ohmmeter Paralel
V              = Sumber Tegangan Searah/Baterai
RM           = Resistansi Dalam Meter M
Dalam keadaan tidak dipergunakan, saklar S harus dibuka agar baterai V tidak lekas menjadi lemah. Bila ohmmeter dipergunakan, maka saklar S akan ditutup. Mula-mula diambil RX = tak terhingga atau A-B dalam keadaan terbuka, sehingga diperoleh arus melalui M + IM. Pada keadaan ini pontensiometer R2 diatur agar arus melalui M mencapai harga maksimum (skala penuh), sehingga

Kedudukan R2 jangan diubah lagi sehingga selalu terpenuhi persamaan diatas dengan demikian akan diperoleh bahwa skala dengan RX = tak terhingga terletak di sebelah kanan.
Untuk RX = nol atau A-B dihubungsingkatkan maka tidak ada arus melalui M atau IM = 0
Jadi, pada ohmmeter skala nol ohm akan terletak di sebelah kiri
  1. Rangkaian Multimeter
Gambar di bawah ini merupakan beberapa rangkaian multimeter yang digambarkan secara terpisah, sebagai ammeter searah (Gambar 6), sebagai voltmeter searah (Gambar 7), sebagai voltmeter bolak-balik (Gambar 8), dan sebagai ohmmeter.
Gambar 6 Rangkaian Ammeter Searah
Gambar 7 Rangkaian Voltmeter Searah
Gambar 8 Rangkaian Voltmeter Bolak-Balik
   
D.      PETUNJUK UMUM MENGGUNAKAN MULTIMETER
Sebelum memulai percobaan ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut:
a.       Perhatikan baik-baik beberapa catatan tentang penggunaan multimeter yaitu dalam kesalahan penggunaan multimeter dapat menyebabkan fuse pada multimeter putus. Putusnya fuse dapat mengakibatkan pemotongan nilai praktek sebesar min. 10 point.
b.      Dalam keadaan tidak dipakai, selector sebaiknya pada kedudukan AC volt pada harga skala cukup besar (misalnya 250 volt). Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahan pakai yang membahayakan multimeter.
c.       Sebelum mulai mengukur suatu besaran listrik perhatikanlah lebih dahulu besaran apakah yang hendak diukur dan kira-kira berapakah besaranya, kemudian pilihlah kedudukan selector dan skala manakah yang akan dipergunakan. Perhatikan pula polaritas (tanda + dan -) bila diperlukan.
d.      Jangan menyambungkan multimeter pada rangkaian. Tetapi bila rangkaian siap baru kemudian memilih kedudukan selector dan skala yang akan digunakan. Jika arus/tegangan melebihi batas maksimal pengukuran multimeter fuse akan putus.
e.       Pada waktu mulai melakukan pengukuran arus dan tegangan dan besarnya tidak dapat dipastikan, maka mulailah dari batas ukur yang paling besar. Setelah itu selector dapat dipindahkan ke batas ukur yang lebih rendah untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
f.       Pada pengukuran tegangan dan arus, pembacaan meter akan teliti bila penunjukan jarum terletak di daerah dekat skala penuh, sedangkan pada pengukuran resistansi bila penunjukan jarum terletak di daerah pertengahan skala.
g.      Harus diperhatikan: pengukuran resistansi hanya boleh dilakukan pada komponen atau rangkaian tidak mengandung sumber tegangan.

E.       LANGKAH-LANGKAH PERCOBAAN

1.      Mengukur Tahanan

a.       Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
b.      Tentukan nilai tahanan karbon yang tersedia berdasarkan
c.       Atur sakelar pada multitester pada posisi ohm x10
d.      Kalibrasi alat ukur dengan cara menghubungkan singkat
e.       Hubungkan singkat sampai menunjuk angka nol pada skala ohm.
f.       Hubungkan multimeter pada masingmasing kaki tahanan
g.      Catatlah semua hasil pengukuran resistor pada tabel 1
Tabel 1 Hasil Pengukuran Multimeter Resistor
No
Resistor
Warna 1
Warna 2
Warna 3
Warna 4
Nilai
Hasil ukur
 1
 R1
Merah
Ungu 
Merah
Emas
47 kohm ± 5%

 2
 R2
Orange
Hitam
Emas
Emas
3ohm ± 5%

 3
 R3
Cokelat
Hitam
Merah
Emas
1kohm ± 5%

 4
 R4
Merah
Ungu
Merah
Emas
2,7kohm ± 5%

 5
 R5
Orange 
Orange
Merah
Emas
3,3kohm ± 5%


2.      Mengukur Arus Searah

a.       Buatlah rangkaian seri di bawah ini dengan Vs = 6Volt dan R1 = R2 = 120ohm.

b.      Dengan harga-harga Vs dan R tersebut, hitunglah I (tidak menggunakan Amperemeter!) dan cantumkan hasil perhitungan tersebut pada Tabel 2.
c.       Sekarang ukurlah arus searah I tersebut dengan multimeter analog. (Perhatikan polaritas meter!). Sesuaikan batas ukur dengan nilai arus terhitung. Ulangilah pengukuran arus searah I dengan memodifikasi parameter rangkaian menjadi R1 = R2 = 1,5 kW dan R1 = R2 = 1,5 MW
d.      Sebelum mengubah nilai R (dan menyambungkan amperemeter ke rangkaian), pastikan batas ukur amperemeter terpilih dengan tepat.
e.       Lakukan kembali pengukuran arus searah I (dengan tiga harga R yang berbeda) menggunakan multimeter digital.
f.       Catatlah semua hasil perhitungan dan pengukuran arus I pada (Tabel 2)
Tabel 2 Hasil Perhitungan dan Pengukuran Arus
Parameter Rangkaian yang digunakan
Nilai Arus Terhitung
Multimeter Analog
Multimeter Digital
Batas Ukur
Nilai Arus Terukur
(Ampere)
Nilai Arus Terukur
(Ampere)
Vs
R1
R2
6V
120 Ohm
120 Ohm
dst.
2,5 mA


dst.







3.      Mengukur Tegangan Arus Searah

a.       Perhatikan rangkaian berikut:

b.      Buatlah rangkaian tersebut dengan Vs = 6V dan R1 = R2 = 120W
c.       Dengan harga-harga Vs dan R tersebut, hitunglah tegangan Vab (tidak menggunakan Voltmeter!), cantumkan hasil perhitungan tersebut pada Tabel 3.
d.      Kemudian ukurlah tegangan Vab dengan multimeter analog. (Perhatikanlah polaritas meter!) Sesuaikan batas ukur yang dipilih dengan hasil perhitungan Vab. Batas ukur manakah yang dipilih? Adakah pengaruh resistansi dalam meter terhadap hasil pengukuran?
e.       Ulangilah pengukuran tegangan Vab dengan memodifikasi parameter rangkaian menjadi
R1 = R2 = 1,5 kW
R1 = R2 = 1,5 MW
f.       Sebelum mengubah nilai R (dan menyambungkan voltmeter ke rangkaian), pastikan batas ukur voltmeter terpilih dengan tepat.
g.      Lakukan kembali pengukuran tegangan searah Vab tersebut (dengan tiga harga R yang berbeda) menggunakan multimeter digital.
h.      Catatlah semua hasil perhitungan dan pengukuran tegangan Vab tersebut (Tabel 3).
Tabel 3 Hasil Perhitungan dan Pengukuran Tegangan Arus Searah
Parameter yang digunakan
Multimeter Analog
Multimeter Digital
Batas Ukur
Sensitivitas
Vab (Volt)
Vab (Volt)
Vs
R1 (ohm)
R2 (ohm)
6V
120
120
10V
200 k ohm
dst.
dst.
dst.








4.      Mengukur Tegangan Arus Bolak-Balik

a.       Pada bagian ini akan digunakan generator sinyal untuk menghasilkan tegangan bolak-balik dengan frekuensi yang dapat diubah-ubah.
b.      Buatlah rangkaian berikut pada rangkaian ini digunakan G (PLN) sebagai sumber tegangan arus bolak-balik.

c.       Aturlah frekuensi generator sinyal pada 50 Hz. Ukur dan aturlah amplitude generator sinyal tersebut sebesar 6 Volt efektif dengan multimeter.
d.      Hambatan yang dipiilh adalah R1 = R2 = 120 Ohm. Gunakan kedua multimeter analog dan digital secara parallel untuk mengukur tegangan Vab.
e.       Ukurlah tegangan Vab di multimeter analog dan digital, catat Tabel 4
f.       Ulangilah pengukuran tegangan Vab dengan memodifikasi parameter rangkaian menjadi
R1 = R2 = 1,5 kW
R1 = R2 = 1,5 MW
g.      Sebelum mengubah nilai R (dan menyambungkan voltmeter ke rangkaian), pastikan batas ukur voltmeter analog terpilih dengan tepat.
h.      Catatlah semua hasil percobaan di atas pada Tabel 4 dan analisis tabel tersebut.
Tabel 4 Hasil Perhitungan dan Pengukuran Tegangan Bolak-balik
No.
Frekuensi (Hz)
R1, R2
(Ohm)
Vab­ (Volt)
Multimeter Analog
Multimeter Digital
1.
50
120
dst.

dst.





Sumber:
Percobaan I Multimeter Lab.Dasar Teknik Elektro STEI-ITB
Laboratorium Fisika Fakultas Teknik UNP Padang, Labsheet Fisika Terapan – Edisi 2007